Senin, 03 Oktober 2016

kiat sukses mahasiswa dengan kekuatan keuangan

True Financial Power
”Jika kita menganggap bahwa uang bukanlah hal penting yang mesti diperhatikan, sehingga setiap acara atau suatu program berada dalam keadaan yang pas-pasan atau kurang, maka banyak sekali sesuatu yang tidak dapat kita lakukan dengan keterbatasan ini, padahal dengan keberlimpahan ini banyak yang dapat dilakukan dengan lebih baik dan lebih terasa kebermanfaatannya. Mengapa kita tidak ubah saja paradigma untuk keberlimpahan, sehingga banyak yang dapat dilakukan dengan baik”.
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui bahwa banyak orang-orang yang tidak bisa menyeimbangkan keuangannya, karena banyak hal. Nah untuk itu ada beberapa persepsi yang mesti dipahami terlebih dahulu, yaitu tentang pikirang orang kaya dengan orang miskin.
Orang kaya adalah dia yang mau menunda kesenangannya dan menggunakan seluruh potensinya untuk mrmbuat uang mengejarnya. Kaya tidak harus diukur dengan menterengnya rumah, mahalnya mobil atau handphone terbaru yang ia miliki. Kaya dapat dilihat dari sikap mental yang ingin terus mandiri, memutar keuntungan usaha untuk modal selanjutnya sehingga suatu saat akan mendapatkan keuntungan yang besar dan dapat menginvestasikannya dalam bentuk surat-surat berharga (sektor nonriil) dan dalam bentuk tanah, property, emas (sektor riil) dll.
Nah disini ada beberapa perbedaan antara orang yang bermental kaya dan miskin, diantaranya.





Tabel Perbandingan Mental
Orang Bermental Miskin
Orang Bermental Kaya
Ingin hasil instant
Menikmati proses
Lebih banyak membeli barang yang konsumtif
Lebih banyak membeli barang yang produktif
Menghalalkan berbagai cara
Sangat menjaga kehalalan proses
Tidak mau berubah (jumud)
Kreatif
Mengandalkan orang lain
Mandiri
Senang menerima
Senang memberi
Gimana nanti
Nanti gimana
Kuliah hanya ingin mengejar nilai yang bagus
Kuliah mengejar ilmu
Nah dari tabel diatas, adakah yang termasuk dalam diri anda? Kalau anda merasa dalam keadaan bermental miskin, nah segeralah ubah mindsetnya agar dalam kehidupan sehari-hari dapat memberikan kemanfaatan bagi orang lain, dan satu hal lagi karena suatu saat apapun yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita semua akan dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.
Tentu setiap orang ingin sekali menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bahkan dalam hadits pun, Rasulullah SAW bersabda ”sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya”. Nah dari hadits tersebut timbul sebuah pertanyaan, bagaimana caranya agar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, nah disini ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, diantaranya:
A.      Mendapatkan Kekayaan
Untuk mendapatkan kekayaan tentunya harus dilakukan dengan cara yang halal agar harta yang diperoleh berkah, nah ada beberapa landasan yang mesti dipahami agar memperoleh rezeki yang halal dan barokah, diantaranya:
1.      Niat yang baik.
2.      Cara yang baik.
3.      Ikhlas dengan rezeki yang dianugrahkan.
Disini ada beberapa tips sederhana yang dapat dijalankan, diantaranya:
1.    Apa kompetensi kita yang sebenarnya?
Banyak orang yang sukses meniti karir bukan karena mereka kuliah di universitas ternama namun karena mereka mempunyai suatu atau beberapa minat dan potensi yang terus-menerus mereka asah dan kembangkan secara sadar maupun tidak sesuai dengan minat dan kecenderungan. Komepetensi ini muncul karena saat minat bertemu dengan bakat dan meledak saat kompetensi inti menemukan peluang sejarahnya. Namun kebanyak orang-orang malah merasa puas dengan apa yang ada karena merasa tidak berbakat, padahal persentasi bakat dalam kesuksesan hidup hanyalah 2% dan 98% lainnya adalah minat yang tercermin dalam usaha yang gigih. Bahkan Thomas Alva Edison mengatakan bahwa jenius itu adalah 1% bakat dan 99% kerja keras.
2.    Cari Ilmu dan Lingkungan yang Mendukung
Ada beberapa tips yang dapat dilakukan agar menemukan ilmu dan lingkungan yang mendukung, diantaranya:
·      Ikutilah seminar dan training-training yang dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan, dan memotivasi semangat kerja.
·      Mengevaluasi diri untuk menjadi lebih baik.
·      Buatlah daftar kemajuan usaha bisa perbulan dan pertahun.
·      Carilah mentor yang berpengalaman dibidangnya.
·      Mulailah membuat SOP yang berisi detail tentang usaha yang telah dijalankan dan terus dikembangkan.
3.    Manajemen Resiko
Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda mengenai resiko, ada yang senang dengan resiko yang tinngi (High Risk) dalam berbisnis atau dalam investasi, ada juga yang senang menjadi seorang safety player, tapi yakinilah bahwa apapun yang dipilih itulah yang terbaik, yang penting berani memulai, berani gagal, dan berani untuk sukses. Maka bersyukurlah atas setiap tantangan yang ada karena itulah momen yang tepat agar kita dapat melesat dan meloncat lebih tinggi.

4.    Manajemen Aset (Waktu dan Kesehatan)
Dalam kehidupan ini, kita mempunyai aset yang sangat berharga setelah nikmat iman, yaitu nikmat waktu dan kesehatan. Semua orang mempunyai modal waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Nah dalam kesehariannya ada orang yang dapat melakukan banyak aktivitas, ada juga yang hanya dapat melakukan satu aktivitas, nah apakah yang membedakan dari keduanya tersebut? Hal ini terletak dari cara bagaimana ia dalam mengelola dan memanfaatkan modal waktu.
Selanjutnya adalah aset kesehatan. Kesehatan menjadi salah satu modal yang paling berharga dalam kehidupan ini, berapa banyak amal yang dapat dilakukan dalam keadaan sehat, namun ketika sakit berapa banyak target yang melenceng juga amanah yang terbengkalai.
B.       Mengelola Pendapatan

Nah dalam tahap ini akan belajar bagaimana dalam mengelola keuangan, nah dalam tahap ini biasanya kita mulai berempati, bersyukur atas kerja keras orangtua dalam mencari nafkah, betapa beratnya mereka dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Nah disini juga akan terlihat bahwa orang yang kaya itu bukanlah mereka yang mempunyai uang banyak saja, namun lebih pada pengelolaannya. Percuma dong kalau dalam kesehariannya atau dalam perbulannya dengan pendapatan misalnya Rp. 100 Juta sedagkan pengeluarannya Rp150 juta, nah dari situ juga kita dapat belajar bahwa kaya dan miskin tidak dilihat dari jumlah uang yang ada namun lebih pada sikap metal untuk menjadi kaya. Bahkan Yodhia Antariksa dalam artikel blognya yang berjudul 7 langkah dalam mencapai Financial Freedom, mengatakan bahwa aturlah pengeluaran dengan proporsi 40% untuk biaya hidup, 30% unruk cicilan hutang dan 30% untuk investasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar