True Financial Power
”Jika kita menganggap
bahwa uang bukanlah hal penting yang mesti diperhatikan, sehingga setiap acara
atau suatu program berada dalam keadaan yang pas-pasan atau kurang, maka banyak
sekali sesuatu yang tidak dapat kita lakukan dengan keterbatasan ini, padahal
dengan keberlimpahan ini banyak yang dapat dilakukan dengan lebih baik dan
lebih terasa kebermanfaatannya. Mengapa kita tidak ubah saja paradigma untuk
keberlimpahan, sehingga banyak yang dapat dilakukan dengan baik”.
Dalam kehidupan
sehari-hari sering kita temui bahwa banyak orang-orang yang tidak bisa
menyeimbangkan keuangannya, karena banyak hal. Nah untuk itu ada beberapa
persepsi yang mesti dipahami terlebih dahulu, yaitu tentang pikirang orang kaya
dengan orang miskin.
Orang kaya adalah dia
yang mau menunda kesenangannya dan menggunakan seluruh potensinya untuk mrmbuat
uang mengejarnya. Kaya tidak harus diukur dengan menterengnya rumah, mahalnya
mobil atau handphone terbaru yang ia miliki. Kaya dapat dilihat dari sikap
mental yang ingin terus mandiri, memutar keuntungan usaha untuk modal
selanjutnya sehingga suatu saat akan mendapatkan keuntungan yang besar dan
dapat menginvestasikannya dalam bentuk surat-surat berharga (sektor nonriil)
dan dalam bentuk tanah, property, emas (sektor riil) dll.
Tabel Perbandingan
Mental
Orang Bermental Miskin
|
Orang Bermental Kaya
|
Ingin hasil instant
|
Menikmati proses
|
Lebih banyak membeli barang yang
konsumtif
|
Lebih banyak membeli barang yang
produktif
|
Menghalalkan berbagai cara
|
Sangat menjaga kehalalan proses
|
Tidak mau berubah (jumud)
|
Kreatif
|
Mengandalkan orang lain
|
Mandiri
|
Senang menerima
|
Senang memberi
|
Gimana nanti
|
Nanti gimana
|
Kuliah hanya ingin mengejar nilai
yang bagus
|
Kuliah mengejar ilmu
|
Nah dari tabel diatas,
adakah yang termasuk dalam diri anda? Kalau anda merasa dalam keadaan bermental
miskin, nah segeralah ubah mindsetnya agar dalam kehidupan sehari-hari dapat
memberikan kemanfaatan bagi orang lain, dan satu hal lagi karena suatu saat
apapun yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita semua akan
dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.
Tentu setiap orang
ingin sekali menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bahkan dalam hadits
pun, Rasulullah SAW bersabda ”sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat
bagi yang lainnya”. Nah dari hadits tersebut timbul sebuah pertanyaan,
bagaimana caranya agar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, nah
disini ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, diantaranya:
A.
Mendapatkan
Kekayaan
Untuk mendapatkan kekayaan tentunya
harus dilakukan dengan cara yang halal agar harta yang diperoleh berkah, nah
ada beberapa landasan yang mesti dipahami agar memperoleh rezeki yang halal dan
barokah, diantaranya:
1.
Niat yang baik.
2.
Cara yang baik.
3.
Ikhlas dengan rezeki yang dianugrahkan.
Disini ada beberapa tips sederhana
yang dapat dijalankan, diantaranya:
1.
Apa
kompetensi kita yang sebenarnya?
Banyak orang yang sukses meniti
karir bukan karena mereka kuliah di universitas ternama namun karena mereka
mempunyai suatu atau beberapa minat dan potensi yang terus-menerus mereka asah
dan kembangkan secara sadar maupun tidak sesuai dengan minat dan kecenderungan.
Komepetensi ini muncul karena saat minat bertemu dengan bakat dan meledak saat
kompetensi inti menemukan peluang sejarahnya. Namun kebanyak orang-orang malah
merasa puas dengan apa yang ada karena merasa tidak berbakat, padahal
persentasi bakat dalam kesuksesan hidup hanyalah 2% dan 98% lainnya adalah
minat yang tercermin dalam usaha yang gigih. Bahkan Thomas Alva Edison
mengatakan bahwa jenius itu adalah 1% bakat dan 99% kerja keras.
2.
Cari
Ilmu dan Lingkungan yang Mendukung
Ada beberapa tips yang dapat
dilakukan agar menemukan ilmu dan lingkungan yang mendukung, diantaranya:
· Ikutilah
seminar dan training-training yang dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan,
dan memotivasi semangat kerja.
· Mengevaluasi
diri untuk menjadi lebih baik.
· Buatlah
daftar kemajuan usaha bisa perbulan dan pertahun.
· Carilah
mentor yang berpengalaman dibidangnya.
· Mulailah
membuat SOP yang berisi detail tentang usaha yang telah dijalankan dan terus
dikembangkan.
3.
Manajemen
Resiko
Setiap orang mempunyai pandangan
yang berbeda-beda mengenai resiko, ada yang senang dengan resiko yang tinngi
(High Risk) dalam berbisnis atau dalam investasi, ada juga yang senang menjadi
seorang safety player, tapi yakinilah bahwa apapun yang dipilih itulah yang
terbaik, yang penting berani memulai, berani gagal, dan berani untuk sukses.
Maka bersyukurlah atas setiap tantangan yang ada karena itulah momen yang tepat
agar kita dapat melesat dan meloncat lebih tinggi.
4. Manajemen Aset (Waktu dan
Kesehatan)
Dalam kehidupan ini, kita mempunyai
aset yang sangat berharga setelah nikmat iman, yaitu nikmat waktu dan kesehatan.
Semua orang mempunyai modal waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari, 7 hari
dalam seminggu. Nah dalam kesehariannya ada orang yang dapat melakukan banyak
aktivitas, ada juga yang hanya dapat melakukan satu aktivitas, nah apakah yang
membedakan dari keduanya tersebut? Hal ini terletak dari cara bagaimana ia
dalam mengelola dan memanfaatkan modal waktu.
Selanjutnya adalah aset kesehatan.
Kesehatan menjadi salah satu modal yang paling berharga dalam kehidupan ini,
berapa banyak amal yang dapat dilakukan dalam keadaan sehat, namun ketika sakit
berapa banyak target yang melenceng juga amanah yang terbengkalai.
B.
Mengelola
Pendapatan
Nah dalam tahap ini akan belajar
bagaimana dalam mengelola keuangan, nah dalam tahap ini biasanya kita mulai
berempati, bersyukur atas kerja keras orangtua dalam mencari nafkah, betapa
beratnya mereka dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Nah disini juga
akan terlihat bahwa orang yang kaya itu bukanlah mereka yang mempunyai uang
banyak saja, namun lebih pada pengelolaannya. Percuma dong kalau dalam
kesehariannya atau dalam perbulannya dengan pendapatan misalnya Rp. 100 Juta
sedagkan pengeluarannya Rp150 juta, nah dari situ juga kita dapat belajar bahwa
kaya dan miskin tidak dilihat dari jumlah uang yang ada namun lebih pada sikap
metal untuk menjadi kaya. Bahkan Yodhia Antariksa dalam artikel blognya yang
berjudul 7 langkah dalam mencapai Financial Freedom, mengatakan bahwa aturlah
pengeluaran dengan proporsi 40% untuk biaya hidup, 30% unruk cicilan hutang dan
30% untuk investasi.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar