Minggu, 02 Oktober 2016

HIDUP BAGAIKAN PETA HARTA KARUN

HIDUP BAGAIKAN PETA HARTA KARUN

Ketika malam gelap gulita, bintang-bintang akan muncul.
Hanya kemampuan anda untuk bertahan, selalu melakukan sesuatu
setapak demi setapak
Menuju arah yang anda impikan sampai pada akhirnya akan menjadi
kesuksesan anda
Jika anda melakukannya terus-menerus tanpa henti, maka tak ada yang bisa
menghentikan langkah anda
(Ralph Waldo Emerson)

Sekarang, anda sudah mengetahui siapa anda yang sesungguhnya, kemudian tentukanlah kemana arah dan tujuan besar hidup anda. Karena yang pasti, Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kehidupan setiap orang yang dilahirkan ke dunia, yang kelahirannya tersebut bukan tanpa maksud dan tujuan. Maka kehidupan yang akan anda jalani yaitu mencari maksud dan tujuan tersebut bagaikan peta harta karun.
Ada sebuah cerita menarik mengenai seorang pemuda yang sedang mencari harta karun, perhatikan dan ambil hikmah dari cerita berikut!
Pencari Harta Karun
Seorang pria muda sedang berjalan disebuah tempat mencari harta karun. Ia berjalan terus hingga tiba disuatu tempat, dan di tempat tersebut terdapat tiga jalan. Ketika ia bingung mau memutuskan untuk memilih jalan yang mana, kebetulan ada eorang kakek yang sedang berdiri di pinggir jalan tersebut.



Karena pria muda tersebut sedang kebingungan mencari jalan yang benar dari ketiga jalan tersebut, maka ia menghampiri kakek tersebut dan lantas berkata kepada kakek tersebut, “ hai kakek, bolehkah saya bertanya? Saya sedang dalam perjalanan mencari harta karun. Tapi saya kebingungan untuk memilih jalan mana yang harus dipilih karena di depan ada tiga jalan yang berbeda, bisakah kakek menunjukan kepada saya jalan manakah yang benar dari ketiga jalan tersebut supaya saya bisa menemukan harta karun?”
Kakek tersebut tidak menjawab pertanyaan si pemuda, namun ia hanya menunjuk jalan pertama kepada pemuda tersebut.
Pemuda tersebut berterimakasih kepada kakek dan ketika itu pula pemuda tersebut langsung mengambil jalan pertama.

Dalam perjalanan, sang pemuda mengalami masalah, hingga pemuda itu kembali lagi. Kali ini seluruh badan pemuda kotor karena terkena lumpur. Ia mendekati kakek itu dan berkata, “hai, kakek. Tadi saya tanya arah jalan harta karun dan kakek menunjuk ke jalan pertama. Tapi yang saya dapatkan adalah kotoran berupa lumpur sehingga baju saya menjadi kotor.” Si pemuda tersebut bertanya kepada si kakek dengan perasaan agak geram,” kakek sekarang ke arah mana saya bisa menemukan harta karun tersebut? Tolong tunjukan kepada saya jalan yang benar agar saya tidak celaka lagi!”
Kakek tua itu seperti saat pertama tidak bersuara, ia hanya menunjuk ke arah jalan yang kedua.
Si pemuda itu kemudian berterimakasih kepada kakek dan tanpa pikir panjang si pemuda itu mengambil jalan yang kedua.
Setelah berjalan di jalan yang kedua, si pemuda tersebut kembali lagi. Badannya bukan hanya terkena lumpur pekat, tapi juga pakaiannya penuh dengan robekan dan kakinya juga penuh dengan luka seperti tergores oleh benda yang sangat tajam.
Setelah kembali dari jalan kedua, lalu si pemuda mendekati si kakek tersebut dengan ekspresi wajah yang sangat kesal. Ia berkata kepada kakek dengan ekspresi sedikit marah, “Hai Kakek tua! Tadi saya menanyakan arah menuju jalan harta karun, dan kakek menunjukan jalan menuju arah yang kedua dan lihatlah pakaian saya menjadi robek dan kaki saya penuh dengan banyak luka. Kakek, dijalan yang kakek tunjukan kepada saya tadi, jalan tersebut penuh dengan semak berduri, seluruh kaki saya jadi terluka karena tergores duri.”
Kali ini ia bertanya lagi kepada kakek tersebut, “sekarang saya tanya lagi, di mana jalan menuju harta karun tersebut? Kakek sudah dua kali membohongi dan mencelakakan saya. Lalu si pemuda itu mengancap kepada kakek tersebut jika ia berbohong dan membuatnya celaka, maka ia akan tahu akibatnya”
Seperti saat sebelumnya, kakek tersebut tetap diam, tanpa mengeluarkan kata sepatah kata pun. Ia sekarang menunjuk ke jalan yang ke tiga. Lalu si pemuda berkata “apakah kakek yakin tidak berbohong?”
Si kakek itu hanya mengangguk kepalanya dan sekali lagi hanya menunjuk ke jalan yang ketiga.
Si pemuda tersebut segera pergi meninggalkan kakek tersebut. Namun  tak lama kemudian, ia kembali lagi kepada kakek tersebut sambil berlari seperti ketakutan. Sambil napas tersengal, ia berkata kepada kakek tersebut dengan marah. “Hai, kakek! Apakah kakek ingin membunuh saya ketika kakek menunjuk jalan ketiga tadi? Dijalan tersebut terdapat banyak sekali binatang buas. Itu sama saja dengan bunuh diri jika saya teruskan dijalan ketiga!”

Kakek itu akhirnya berbicara, kemudian si kakek berkata, “sebenarnya jalan yang tadi saya tunjukan kepada anda itu semuanya menuju ke tempat harta karun. Hanya saja ketika anda menuju ke tempat harta karun, anda harus melewati jalan dan ujian disetiap jalan tersebut. Anda bisa memilih salah satunya, anda bisa memilih melewati jalan kolam yang berlumpur, semak yang berduri atau binatang yang buas. Anda harus memilih salah satu dari ketiga jalan tersebut. Kalau anda benar-benar ingin pergi ke tempat harta karun, anda harus berani melewati salah satunya. Namun, jika anda tidak mau melewatinya, silahkan kembali saja.”
Setelah mendengarkan nasihat dari kakek tersebut, sang pemuda menunduk kepalanya. Ia pun bergegas dan mengambil salah satu jalan dari ketiga jalan tersebut dan berani mengambil resikonya.
(dikutip dari http://temonsoejadi.com)
Teman, apa yang membuatmu berpikir tentang kehidupan ini?
Ketika teman-teman masih menjadi ruh dan dibebaskan untuk memilih, maka apa yang akan teman-teman pilih ketika dilahirkan? Menjadi hewankah? Atau memang ingin menjadi manusia? Tapi entah kenapa teman-teman menjadi manusia. Jangan dipikirkan nanti malah menjadi kebingungan dan lalu rontok deh rambutnya hingga kepala botak, hehe
Teman-teman ga perlu memikirkan sampai rambut rontok, karena jawabannya sudah ada pada cerita yang tadi. Ternyata Tuhan tidak menjadikan teman-teman sia-sia, melainkan ditugaskan mengambil bagian dari peran yang berada di dunia. Entah peran sebagai apa, itulah yang harus teman-teman cari sesuai dengan potensi yang teman-teman miliki. Bisa jadi karena potensi yang dimiliki jarang diasah, sehingga kita malah menjadi orang yang bukan pilihan kita sendiri.
Untuk mengetahui peran masing-masing di dunia, maka peran itu harus diciptakan, ditemukan apa yang ditemukan. Seperti pria muda tadi yang berniat untuk mencari harta karun, sesungguhnya itulah tujuan hidupnya. Dan si kakek itu hanyalah pilihan yang ada ketika anda menjalankan peran sebagai apapun. Ingat! Si Kakek hanya sebagai petunjuk arah menuju jalan yang anda tempuh. Itulah kehidupan yang harus teman-teman lewati, sayang sekali ketika teman-teman tidak melakukan apa-apa.
Ingat membuat peta hidup!!
Peta tentunya tidak sama dengan kenyataan, peta hanyalah menyumbangkan separuh dari perjalanan dan separuhnya lagi ditentukan oleh dirimu sendiri. Pada peta, anda harus menjadi mahasiswa, kemudian menjadi PNS, kemudian menjadi bupati dan seterusnya. Peta hanyalah cara, dengan membuatnya saja tidak akan mengantarkan teman-teman ke tujuan akhir. Dibutuhkan keberanian untuk tetap berpegang teguh pada hal-hal yang sungguh penting bagimu dalam perjalanan kehidupan ini.
Hisup ini terdiri dari fase-fase. Ada fasi anak-anak yang lebih disibukan dengan bermain. Fase remaja yang sudah mulai berani melakukan hal-hal yang dilarang oleh orangtuanya. Fase dewasa sudah mulai berpikir untuk menentukan arah hidup dan Fase orantua yang lebih memilih ketenangan ruhani dan mengenal arti kebijaksanaan.
“Menjalani kehidupan bagaikan berada pada anak tangga yang akan menuju tangga selanjutnya sampai berada pada tangga terakhir untuk berjumpa denganNya”
(Al-Ghazali)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar