HIDUP BAGAIKAN PETA HARTA KARUN
Ketika malam gelap gulita,
bintang-bintang akan muncul.
Hanya kemampuan anda untuk
bertahan, selalu melakukan sesuatu
setapak demi setapak
setapak demi setapak
Menuju arah yang anda impikan
sampai pada akhirnya akan menjadi
kesuksesan anda
kesuksesan anda
Jika anda melakukannya
terus-menerus tanpa henti, maka tak ada yang bisa
menghentikan langkah anda
menghentikan langkah anda
(Ralph Waldo Emerson)
Sekarang, anda sudah
mengetahui siapa anda yang sesungguhnya, kemudian tentukanlah kemana arah dan
tujuan besar hidup anda. Karena yang pasti, Tuhan tidak akan menyia-nyiakan
kehidupan setiap orang yang dilahirkan ke dunia, yang kelahirannya tersebut
bukan tanpa maksud dan tujuan. Maka kehidupan yang akan anda jalani yaitu
mencari maksud dan tujuan tersebut bagaikan peta harta karun.
Ada sebuah cerita
menarik mengenai seorang pemuda yang sedang mencari harta karun, perhatikan dan
ambil hikmah dari cerita berikut!
Pencari Harta Karun
Seorang pria muda
sedang berjalan disebuah tempat mencari harta karun. Ia berjalan terus hingga
tiba disuatu tempat, dan di tempat tersebut terdapat tiga jalan. Ketika ia
bingung mau memutuskan untuk memilih jalan yang mana, kebetulan ada eorang
kakek yang sedang berdiri di pinggir jalan tersebut.
Karena pria muda
tersebut sedang kebingungan mencari jalan yang benar dari ketiga jalan
tersebut, maka ia menghampiri kakek tersebut dan lantas berkata kepada kakek
tersebut, “ hai kakek, bolehkah saya bertanya? Saya sedang dalam perjalanan
mencari harta karun. Tapi saya kebingungan untuk memilih jalan mana yang harus dipilih
karena di depan ada tiga jalan yang berbeda, bisakah kakek menunjukan kepada
saya jalan manakah yang benar dari ketiga jalan tersebut supaya saya bisa
menemukan harta karun?”
Kakek tersebut tidak
menjawab pertanyaan si pemuda, namun ia hanya menunjuk jalan pertama kepada
pemuda tersebut.
Pemuda tersebut
berterimakasih kepada kakek dan ketika itu pula pemuda tersebut langsung
mengambil jalan pertama.
Dalam perjalanan, sang
pemuda mengalami masalah, hingga pemuda itu kembali lagi. Kali ini seluruh badan
pemuda kotor karena terkena lumpur. Ia mendekati kakek itu dan berkata, “hai,
kakek. Tadi saya tanya arah jalan harta karun dan kakek menunjuk ke jalan
pertama. Tapi yang saya dapatkan adalah kotoran berupa lumpur sehingga baju
saya menjadi kotor.” Si pemuda tersebut bertanya kepada si kakek dengan
perasaan agak geram,” kakek sekarang ke arah mana saya bisa menemukan harta
karun tersebut? Tolong tunjukan kepada saya jalan yang benar agar saya tidak
celaka lagi!”
Kakek tua itu seperti
saat pertama tidak bersuara, ia hanya menunjuk ke arah jalan yang kedua.
Si pemuda itu kemudian
berterimakasih kepada kakek dan tanpa pikir panjang si pemuda itu mengambil
jalan yang kedua.
Setelah berjalan di
jalan yang kedua, si pemuda tersebut kembali lagi. Badannya bukan hanya terkena
lumpur pekat, tapi juga pakaiannya penuh dengan robekan dan kakinya juga penuh
dengan luka seperti tergores oleh benda yang sangat tajam.
Setelah kembali dari
jalan kedua, lalu si pemuda mendekati si kakek tersebut dengan ekspresi wajah
yang sangat kesal. Ia berkata kepada kakek dengan ekspresi sedikit marah, “Hai
Kakek tua! Tadi saya menanyakan arah menuju jalan harta karun, dan kakek
menunjukan jalan menuju arah yang kedua dan lihatlah pakaian saya menjadi robek
dan kaki saya penuh dengan banyak luka. Kakek, dijalan yang kakek tunjukan
kepada saya tadi, jalan tersebut penuh dengan semak berduri, seluruh kaki saya
jadi terluka karena tergores duri.”
Kali ini ia bertanya
lagi kepada kakek tersebut, “sekarang saya tanya lagi, di mana jalan menuju
harta karun tersebut? Kakek sudah dua kali membohongi dan mencelakakan saya.
Lalu si pemuda itu mengancap kepada kakek tersebut jika ia berbohong dan
membuatnya celaka, maka ia akan tahu akibatnya”
Seperti saat
sebelumnya, kakek tersebut tetap diam, tanpa mengeluarkan kata sepatah kata
pun. Ia sekarang menunjuk ke jalan yang ke tiga. Lalu si pemuda berkata “apakah
kakek yakin tidak berbohong?”
Si kakek itu hanya
mengangguk kepalanya dan sekali lagi hanya menunjuk ke jalan yang ketiga.
Si pemuda tersebut segera
pergi meninggalkan kakek tersebut. Namun
tak lama kemudian, ia kembali lagi kepada kakek tersebut sambil berlari
seperti ketakutan. Sambil napas tersengal, ia berkata kepada kakek tersebut
dengan marah. “Hai, kakek! Apakah kakek ingin membunuh saya ketika kakek
menunjuk jalan ketiga tadi? Dijalan tersebut terdapat banyak sekali binatang
buas. Itu sama saja dengan bunuh diri jika saya teruskan dijalan ketiga!”
Kakek itu akhirnya
berbicara, kemudian si kakek berkata, “sebenarnya jalan yang tadi saya tunjukan
kepada anda itu semuanya menuju ke tempat harta karun. Hanya saja ketika anda
menuju ke tempat harta karun, anda harus melewati jalan dan ujian disetiap
jalan tersebut. Anda bisa memilih salah satunya, anda bisa memilih melewati
jalan kolam yang berlumpur, semak yang berduri atau binatang yang buas. Anda
harus memilih salah satu dari ketiga jalan tersebut. Kalau anda benar-benar
ingin pergi ke tempat harta karun, anda harus berani melewati salah satunya.
Namun, jika anda tidak mau melewatinya, silahkan kembali saja.”
Setelah mendengarkan
nasihat dari kakek tersebut, sang pemuda menunduk kepalanya. Ia pun bergegas
dan mengambil salah satu jalan dari ketiga jalan tersebut dan berani mengambil
resikonya.
Teman, apa yang
membuatmu berpikir tentang kehidupan ini?
Ketika teman-teman
masih menjadi ruh dan dibebaskan untuk memilih, maka apa yang akan teman-teman
pilih ketika dilahirkan? Menjadi hewankah? Atau memang ingin menjadi manusia?
Tapi entah kenapa teman-teman menjadi manusia. Jangan dipikirkan nanti malah
menjadi kebingungan dan lalu rontok deh rambutnya hingga kepala botak, hehe
Teman-teman ga perlu
memikirkan sampai rambut rontok, karena jawabannya sudah ada pada cerita yang
tadi. Ternyata Tuhan tidak menjadikan teman-teman sia-sia, melainkan ditugaskan
mengambil bagian dari peran yang berada di dunia. Entah peran sebagai apa,
itulah yang harus teman-teman cari sesuai dengan potensi yang teman-teman
miliki. Bisa jadi karena potensi yang dimiliki jarang diasah, sehingga kita
malah menjadi orang yang bukan pilihan kita sendiri.
Untuk mengetahui peran
masing-masing di dunia, maka peran itu harus diciptakan, ditemukan apa yang
ditemukan. Seperti pria muda tadi yang berniat untuk mencari harta karun,
sesungguhnya itulah tujuan hidupnya. Dan si kakek itu hanyalah pilihan yang ada
ketika anda menjalankan peran sebagai apapun. Ingat! Si Kakek hanya sebagai
petunjuk arah menuju jalan yang anda tempuh. Itulah kehidupan yang harus teman-teman
lewati, sayang sekali ketika teman-teman tidak melakukan apa-apa.
Ingat membuat peta
hidup!!
Peta tentunya tidak
sama dengan kenyataan, peta hanyalah menyumbangkan separuh dari perjalanan dan
separuhnya lagi ditentukan oleh dirimu sendiri. Pada peta, anda harus menjadi
mahasiswa, kemudian menjadi PNS, kemudian menjadi bupati dan seterusnya. Peta
hanyalah cara, dengan membuatnya saja tidak akan mengantarkan teman-teman ke
tujuan akhir. Dibutuhkan keberanian untuk tetap berpegang teguh pada hal-hal
yang sungguh penting bagimu dalam perjalanan kehidupan ini.
Hisup ini terdiri dari
fase-fase. Ada fasi anak-anak yang lebih disibukan dengan bermain. Fase remaja
yang sudah mulai berani melakukan hal-hal yang dilarang oleh orangtuanya. Fase
dewasa sudah mulai berpikir untuk menentukan arah hidup dan Fase orantua yang
lebih memilih ketenangan ruhani dan mengenal arti kebijaksanaan.
“Menjalani kehidupan
bagaikan berada pada anak tangga yang akan menuju tangga selanjutnya sampai
berada pada tangga terakhir untuk berjumpa denganNya”
(Al-Ghazali)












Tidak ada komentar:
Posting Komentar